jemparingan mataraman gaya yogyakarta

Di Bangsal Kemandungan: Tempat Saya Belajar dan Mengajar Jemparingan Mataraman



Ada tempat yang setiap kali saya datangi, selalu membuat saya sedikit berhenti.

Bukan karena tempat itu harus dibuat terasa istimewa.

Tetapi karena di sana ada banyak cerita yang pernah saya jalani.

Salah satunya adalah Kagungan Dalem Bangsal Kemandungan, Kraton Yogyakarta.

Di tempat inilah saya pernah belajar.

Di tempat yang sama, saya kemudian mendapat kesempatan untuk mengajar.

Dan sampai sekarang, kalau melihat kembali foto-foto dari masa itu, yang saya ingat bukan hanya jemparing yang melesat ke arah wong-wongan.

Saya ingat wajah anak-anak.

Saya ingat suasana latihan.

Saya ingat percakapan-percakapan kecil.

Saya juga ingat para Kanjeng yang pada saat itu menjadi bagian dari perjalanan saya.

Datang sebagai orang yang ingin belajar

Ketika pertama kali belajar jemparingan di lingkungan Kraton, saya datang sebagai orang yang ingin belajar.

Belajar cara memegang gendewa.

Belajar duduk.

Belajar menarik tali.

Belajar melepaskan jemparing.

Tetapi ternyata, semakin lama belajar, semakin saya sadar bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan gerakan tangan.

Ada tata krama.

Ada ketenangan.

Ada kesabaran.

Ada cara membawa diri.

Dan ada sesuatu yang dalam bahasa Jawa mungkin lebih mudah disebut roso.

Jemparingan perlahan membuat saya mengerti bahwa memanah tidak selalu tentang seberapa jauh jemparing terbang.

Kadang-kadang, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menata dirinya sebelum jemparing itu dilepaskan.

Kemudian saya mulai mengajar

Waktu berjalan.

Yang semula belajar, suatu hari diminta untuk membantu mengajar.

Perubahan itu sederhana, tetapi bagi saya cukup dalam.

Tiba-tiba saya berdiri di sisi lain.

Dulu saya yang bertanya.

Sekarang anak-anak yang bertanya kepada saya.

Dulu saya yang memperhatikan gerakan orang lain.

Sekarang ada anak-anak yang memperhatikan gerakan saya.

Dan di situlah saya menemukan sesuatu yang menarik.

Mengajar ternyata membuat saya belajar lagi.

Ketika seorang anak bertanya, kita tidak bisa hanya menjawab, "memang begitu."

Kita harus kembali mengingat.

Mengapa duduknya seperti itu?

Mengapa gendewanya dipegang demikian?

Mengapa harus tenang?

Mengapa tidak boleh terburu-buru?

Tanpa saya sadari, anak-anak itu membuat saya kembali menjadi murid.

Anak-anak dan jemparingan

Saya paling suka melihat anak-anak ketika sedang belajar jemparingan.

Kadang mereka sangat serius.

Kadang terlalu bersemangat.

Kadang jemparingnya meleset jauh.

Kadang justru mengenai sasaran ketika mereka sendiri tidak menyangka.

Ada yang langsung tersenyum.

Ada yang menoleh mencari siapa yang melihat.

Ada yang ingin mencoba lagi.

Dan ada pula yang hanya diam, lalu mengambil jemparing berikutnya.

Bagi saya, momen-momen kecil seperti itulah yang membuat jemparingan tetap hidup.

Bukan hanya ketika seseorang berhasil mengenai sasaran.

Tetapi ketika seseorang mau mencoba sekali lagi.

Foto-foto yang menyimpan cerita

Karena itu, saya ingin menyimpan banyak foto dari masa tersebut di sini.

Bukan semata-mata untuk menunjukkan bahwa saya pernah berada di Bangsal Kemandungan.

Foto-foto itu bagi saya adalah potongan perjalanan.

Ada foto bersama anak-anak.

Ada foto bersama para Kanjeng.

Ada foto ketika latihan.

Ada foto ketika sedang menjelaskan sesuatu.

Ada pula foto-foto yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa saja.

Tetapi bagi saya, setiap foto memiliki ceritanya sendiri.

Ada orang yang pernah saya temui.

Ada anak yang pernah saya ajari.

Ada percakapan yang mungkin sudah lama berlalu.

Ada hari yang tidak akan kembali.

Dan semuanya menjadi bagian dari perjalanan saya bersama jemparingan.

Dari anak-anak itu saya belajar tentang warisan

Sering kali kita berbicara tentang melestarikan budaya dengan kata-kata yang besar.

Pelestarian.

Warisan budaya.

Generasi penerus.

Kebudayaan Mataram.

Semua itu penting.

Tetapi setelah mengalami sendiri proses belajar dan mengajar, saya justru melihatnya dari sesuatu yang sangat sederhana.

Seorang anak datang.

Ia duduk.

Ia memegang gendewa.

Ia belajar.

Besok mungkin ia datang lagi.

Kemudian suatu hari, mungkin ia akan mengajarkan hal yang sama kepada orang lain.

Begitulah sebuah pengetahuan bertahan.

Tidak selalu melalui buku.

Tidak selalu melalui museum.

Kadang-kadang ia berpindah melalui tangan seorang guru kepada tangan seorang anak.

Saya tidak ingin jemparingan hanya menjadi kenangan

Mungkin itulah yang paling saya rasakan sekarang.

Saya tidak ingin Jemparingan Mataraman hanya menjadi foto lama.

Tidak ingin ia hanya menjadi cerita tentang masa lalu.

Dan tidak ingin anak-anak mengenalnya hanya dari tulisan bahwa dahulu pernah ada tradisi memanah di lingkungan Kraton Yogyakarta.

Jemparingan harus tetap mempunyai kehidupan.

Ada yang mempelajarinya.

Ada yang mengajarkannya.

Ada yang mempraktikkannya.

Ada yang menuliskannya.

Dan ada yang mau meneruskannya.

Karena bagi saya, budaya akan tetap hidup selama masih dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.

Bangsal Kemandungan, bagian dari perjalanan saya

Hari ini, ketika kembali melihat foto-foto itu, saya menyadari bahwa Bangsal Kemandungan bukan hanya tempat di mana saya pernah belajar dan mengajar jemparingan.

Tempat itu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya bersama Jemparingan Mataraman.

Saya datang sebagai orang yang belajar.

Kemudian mendapat kesempatan untuk mengajar.

Dan akhirnya memahami bahwa keduanya tidak pernah benar-benar terpisah.

Sebab seorang guru yang berhenti belajar, pada akhirnya akan berhenti pula mewariskan.

Maka saya masih belajar.

Masih mengajar.

Masih memegang gendewa.

Masih mendengarkan.

Masih bertanya.

Dan masih mencoba memahami jemparingan, bukan hanya sebagai keterampilan memanah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan dan kebudayaan Mataraman.

Dari Bangsal Kemandungan, ada banyak cerita yang tertinggal.

Sebagian saya simpan dalam ingatan.

Sebagian lagi saya simpan dalam foto.

Dan sebagian ingin saya wariskan melalui tulisan-tulisan di Jemparingan.com.

Agar kelak, ketika saya sudah tidak lagi berada di tempat itu, cerita-cerita ini tetap mempunyai jalan untuk sampai kepada generasi berikutnya.

Kembali ke: JEMPARINGAN.COM
Rumah belajar kami: OmahYARDEN.My.ID
JEMPARINGAN.com