jemparingan BANDULAN Jogja

Mengenal Panahan Tradisional BANDULAN: Sejarah, Ciri Khas, dan Cara Bermainnya

Kalau Anda pernah melihat orang duduk bersila sambil membidik target kecil yang digantung dengan tali, memegang busurnya agak miring atau tegak, itulah jemparingan bandulan — salah satu bentuk panahan tradisional Jawa yang kini banyak dimainkan di berbagai kota, termasuk Yogyakarta.

Bandulan sering juga disebut dengan nama lain, seperti jemparingan gaya Pakualaman atau jemparingan Mataraman modern. Meski namanya beragam, intinya sama: sebuah cabang panahan tradisional yang tumbuh dari akar budaya jemparingan Mataraman, namun berkembang dengan cara memegang busur yang berbeda.

Apa Itu Bandulan?

Bandulan adalah bentuk panahan tradisional yang dimainkan sambil duduk bersila, mirip dengan jemparingan Mataraman. Bedanya ada pada dua hal utama:

  1. Cara memegang busur — kalau jemparingan Mataraman memegang busur secara horisontal di depan dada, bandulan memegang busur secara vertikal atau diagonal.
  2. Cara membidik — pemanah bandulan mengincar sasaran dengan mata secara langsung, berbeda dengan jemparingan Mataraman yang lebih mengandalkan rasa dan feeling tanpa membidik dengan mata.

Nama "bandulan" sendiri diambil dari kata bandul, yaitu sasaran panahan yang digantung (digandhulke) pada seutas tali. Bentuk bandul biasanya silinder, dengan diameter sekitar 3 cm dan panjang sekitar 30 cm, dipasang setinggi pundak atau kepala pemanah.

jemparingan mataraman dan bandulan

Dari Mana Asal Bandulan?

Bandulan lahir dari dinamika panahan tradisional di Surakarta sekitar tahun 1960-an. Pada masa itu, panahan tradisional sedang digemari banyak masyarakat, dan lazimnya para pemanah memegang busur secara horisontal — sama seperti gaya Mataraman.

Namun situasi politik saat itu ikut memengaruhi arah olahraga ini. Sejumlah pemanah tradisional lalu mulai mengubah cara memegang busurnya, sedikit memiringkan atau menegakkannya, meniru gaya panahan internasional yang sudah lebih dulu populer secara global. Dari sinilah cikal bakal jemparingan bandulan muncul.

Busur yang dipakai pun ikut dimodifikasi, merupakan perpaduan antara busur Mataraman (horisontal) dengan busur internasional yang punya window atau jendela bidik — meski lebarnya hanya sekitar 3 cm.

Awalnya, bandulan dimainkan sebagai kegiatan tambahan setelah ronde kejuaraan panahan usai. Setelah lomba selesai, bandul dipasang di depan box backstop panahan, dan para pemanah pun melanjutkan latihan atau bermain-main dengan gaya ini.

  • sejarah jemparingan solo kung popop
  • sejarah jemparingan mataraman solo

Bandulan Masuk ke Yogyakarta

Seiring waktu, permainan bandulan menyebar hingga ke Yogyakarta. Namun menariknya, para pelatih maupun pengrajin busur dan anak panah untuk bandulan mayoritas masih berasal dari Jawa Tengah — daerah seperti Klaten,Jatinom, Wedi, Salatiga, dan Tawangmangu dikenal sebagai basis para perajin dan pelatihnya. Bahkan dalam berbagai perlombaan, juara-juaranya pun kerap didominasi pemanah asal Jawa Tengah.

Di Yogyakarta sendiri, bandulan pernah cukup aktif dimainkan di dua tempat:

  1. Lapangan Kestalan, Kadipaten Pakualaman — tercatat tahun 2010 ada klub jemparingan Jalantara yang berlatih di sana.
  2. Halaman Bangsal Kemandungan, Kraton Yogyakarta — bandulan pernah difasilitasi dan dimainkan rutin di tempat ini.

Busana dalam Bandulan

Pada masa-masa awal, para pemanah bandulan biasa berlatih dengan pakaian olahraga sederhana — kaos dan celana training, ada juga yang memakai sarung atau baju safari.

Baru belakangan ini, sebagian penjemparing mulai mengenakan busana tradisional seperti jarik, surjan, atau kebaya saat berlatih bandulan.

omahyarden jogja

Bandulan dan Jemparingan Mataraman: Satu Akar, Dua Cabang

Bandulan dan jemparingan Mataraman sama-sama tumbuh dari tradisi panahan Jawa yang sama. Perbedaan cara memegang busur dan cara membidik bukan berarti salah satu lebih "asli" dari yang lain — keduanya berkembang pada zamannya masing-masing, dengan latar belakang sejarah yang berbeda pula.

Bagi Anda yang tertarik belajar panahan tradisional Jawa, memahami akar sejarah dan ciri khas masing-masing gaya ini penting, supaya tidak keliru saat membaca atau mendengar informasi yang beredar luas — termasuk di internet.

Ingin belajar jemparingan Mataraman atau memahami lebih dalam sejarah panahan tradisional Jawa secara langsung dari praktisi yang sudah lebih dari 10 tahun bergelut di bidang ini? 

Kunjungi: halaman kursus di Jemparingan.com

👉 JEMPARINGAN.COM
Berbagi